Ternyata,
Dia Tetap kakakku
( Nisa
Fitri Yanti)
Jika kamu mengetehui sebenarnya tidak ada seorang saudarapun yang benar-benar
membenci saudaranya yang lain. Semuanya saling membutuhkan satu sama lain,saling
memahami dan saling menjaga antara satu dengan yang lain, semua akan lebih
indah bila dilakukan bersama-sama dengan mereka. Hanya saja saat kita berada di
sekitar mereka terkadang banyak hal-hal
yang membuat kita tidak merasa nyaman, dan bahkan sering kali menimbulkan
sebuah pertengkaran dan perselisihan yang membuat kita merasa jauh, mungkin
semua itu berawal dari hal-hal yang disebabkan oleh sebuah keselahan kecil dan
bahkan mungkin sebuah keselahpahaman.
Itulah hal yang pernah terjadi antara aku dan saudara perempuanku, dia merupakan anak tertua di keluarga kami dan merupakan satu-satunya saudara perempuanku. Pada saat kami bersama-sama kami tak pernah akur dalam keseharian kami, kami seringkali bertengkar, ada saja masalah kecil yang seringkali memicu pertengkaran kami. Satu hal yang membuat ku semakin benci kepada kakak perempuan ku itu adalah dia selalu mendapatkan perhatian lebih dari mama. Semua yang dilakukannya selalu benar oleh mama. Pernah suatu saat kakak ku itu terlambat pulang sekolah, lewat dari batas waktu yang telah di tentukan. Biasanya kalo kami terlambat pulang kerumah akan ada hukuman yang menanti bila sebelumnya tak memberi kabar terlebih dahulu.
“ Dita,….
Kemana kakakmu masih belum pulang??? Kamu kok ngak bareng kakak dari sekolah??
Tanya mama
“ tadi
kata kakak mau belajar bareng temannya ma, jadi dita duluan aja pulangnya…!!!” Kata
ku
“ kenapa
dia ngak kabarin mama klo pulangnya sampe malam kayak gini,… udah habis magrib
lagi…” kata mama
“ Dita
juga ngak tau ma, kan dita ngak bareng sama kak Loli tadi……” jawabku
Tiba-tiba
terdengar pintu pagar di buka, aku langsung berlarian keluar melihat siapa yang
datang. Ternyata kak loli yang baru saja pulang, dan semua bajunya basah kuyup.
Sedikit terkejut, namun dalam hatiku ada perasaan senang karena kakak pasti
dimarahi mama karena pulangnya kemalaman.
“ dari
mana kak, kok basah kuyup…. Katanya belajar kelompok, aku bilang mama ya... “
godaku sambil cengir-cengir
“ bilang
aja kalo berani…!!!” Kakak Loli menantangku
Saat
langkah kaki mama terdengar menghampiri kami, aku langsung berteriak memanggil
mama “ ma…..ini kak loli baru pulang,
basah kuyup lagi ma….” Aduku sambil tersenyum-senyum
“ mana
Dit, mana kakakmu…….???” Mama bergegas menghampiri kak Loli, “Loli kemana saja
kamu sayang, sudah malam kayak gini …. Kamu basah kuyup lagi, kenapa kamu ngak
kabarin mama kalo pulang malam, kalo kenapa-kenapa gimana sayang…. Sudah berapa
kali mama bilang Kalo kamu pulang terlambat kabarin mama” kata mama menasehati
kak Loli
“ maafin
Loli ya ma…., sebenarnya tadi Loli ngak pergi belajar, tapi Loli main ke danau
bareng teman-teman, karena keasikan main air kayak ini jadinya ma,Loli basah
kuyup…maafin Loli ya ma ” jelas kak Loli
“Ya
sudah, kamu kedinginan kan.Ayo cepat masuk!!!” kata mama, mama menoleh kepadaku
“Dita , tolong ambilin air panas buat kakakmu” pinta mama
“ tapi ma….kak
loli kan pulang terlambat, tadi kak loli juga bohong lagi sama Dita, katanya
mau belajar kelompok eh ternyata malah keluyuran ngak jelas kemana. Harusnya
kak Loli dapat hukuman dong ma” kataku
“ Dita!!!
Jangan banyak bicara, kamu mama suruh ambilin air panas buat kakakmu” tegur mama kepadaku.
Ternyata
semuanya tidak seperti yang ku bayangkan, kak Loli tidak di marahi oleh mama,
mama sangat cemas melihat kak Loli, walaupun dalam hal tersebut itu semua kesalahan kak Loli sendiri . Berbeda dengan
perlakuan mama kepadaku, seandainya tadi aku yang terlambat pulang dari sekolah
mama pasti langsung memarahi aku habis-habisan, bilang aku anak yang ngak nurut
lah,anak yang ngak disiplin lah dan banyak lagi yang lainnya. Tapi saat itu
terjadi pada kak Loli kenapa mama malah bersikap seperti itu, semuanya terasa
tidak adil untuk ku.
Saat itu
ingin rasanya aku marah dan aku benci kak Loli, kenapa kak Loli bisa
mendapatkan perhatian yang lebih dari mama. Sungguh bahagia jika aku menjadi
kak Loli. Kutatap kak Loli dengan penuh perasaan benci, kak Loli balas menatap
sambil mencibir ku….. Seakan dia merasa dialah pemenangnya pada saat itu, dan kemudian
kak Loli berlalu kekamar mengikuti mama.
***
Minggu
ini kami sekeluarga kerja bakti membersihkan rumah, adik-adik dan kakak
laki-lakiku membersihkan rumput-rumput yang ada di perkarangan dan aku sendiri
mendapatkan bagian membersihkan kaca jendela. Ada yang aneh rasanya hari itu,
biasanya aku selalu mengerjakannya bersama kak Loli, walaupun kak Loli sering
jahilin aku sambil kerja, semua pekerjaan kami tetap selesai pada waktunya.
Tapi sekarang kak Loli tidak akan sering terlihat di rumah setiap hari, karena
saat sebulan yang lalu kak Loli sudah tidak ada di rumah karena kak Loli
diterima di universitas yang lumayan jauh dari daerah kami.
Seharusnya
aku senang kak Loli sudah jauh dari ku, karena sekarang kak Loli tidak akan
bisa lagi sering-sering berada di sampingku, tidak ada lagi yang bisa menyiramku dengan air bekas cucian
jendela, kak Loli tidak akan pernah lagi ngomelin aku kalo aku berada
dikamarnya tanpa permisi, walaupun hanya untuk sekedar duduk. Kak Loli tidak
akan bisa lagi sering- sering marahin aku, dan juga ngak akan ada lagi yang
bisa bikin aku ngambek sampai buat aku lari ke kamar mengurung diri, dan
terpaksa nahan lapar sampai pagi.
Malam itu
aku tak sengaja mendengar papa sama mama
bicara mengenai kak Loli, teman sekampus kak Loli nelfon mama kalo tadi pagi
kak Loli pingsan.
“ apa
ma…. Loli pingsan lagi???” Tanya papa, dengan wajah cemas
“ iya pa,
tadi temannya yang telfon ke mama, Loli pasti kecapekan lagi….” Jawab mama
“ anak
itu dari kecil tubuhnya lemah, aktivitasnya tidak bisa seperti anak-anak lain”
kata papa
“ iya pa,
tapi Lolinya yang susah dibilangin… “jelas mama
Saat
itu aku mulai mengerti kenapa mama selalu mencemaskan kak loli, karena memang
sejak kecil kak Loli sering pingsan kalo sudah terlalu banyak mejalankan
aktivitasnya, kak Loli memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Namun aku tidak
pernah tahu kondisi kak Loli selama ini.
“
mama…. Kenapa ngak ada yang bilang sama dita kalo kondisi kakak seperti itu”
tiba-tiba aku menyela pembicaraan mama dan papa
“
Dita, sejak kapan kamu disana…..?” Tanya papa, terkejut melihatku
“
papa kenapa ngak pernah cerita mengenai kak Loli yang seperti itu” desakku
ingin tahu
“kakak
mu yang melarang kami bilang semua ini,
dia ngak mau terlihat lemah didepan adik-adiknya, tidak mau terlihat lemah
didepanmu. Karena kalo kamu tahu dia merasa nantinya tidak bisa jadi kakak yang
baik untukmu.” Jelas papa
“
iya Dit, kakakmu itu sebenarnya sayang sam kamu, kamu saja yang tidak tahu yang
sebenarnya. Saat kalian bertengkar kakakmu sering cerita sama mama, sering
kakakmu bilang kalo kamu itu sangat benci sama dia. Sebenarnya kakak mu itu
tidak punya niat buat kamu marah, tapi caranya saja yang tidak baik untuk bisa
kamu pahami.” Kata mama menjelaskan
Aku
terdiam saat itu, apa benar yang di katakana mama. Kak Loli yang sering kali
bertengkar denganku, yang selama ini sangat ku benci ternyata berbeda dengan
apa yang ku fikirkan selama ini. Aku merasa bersalah pada kak Loli.,selama ini
aku telah membenci kak Loli hanya karena hal-hal yang kecil. Benar kata kak Loli,
aku belum cukup dewasa untuk mengerti dan bisa memahami semuanya.
Malam
itu aku terus-terusan kepikiran kak Loli, aku meras bersalah dengan sikapku
kepada kak Loli selama ini. Untuk sedikit menenangkan hatiku, aku berusaha
untuk menanyakan kabar kak Loli lewat sms, karena aku tidak punya keberanian
untuk menelfon kak Loli langsung. Kak Loli tidak membalasnya,namun beberapa saat
setelah itu tiba-tiba kak Loli langsung menelfonku.
“
Dita kamu kesambet dimana tadi, kok bisa kamu nanyain kabar kakak? Kangen ya…,
atau kesepian karena ngak ada kakak dirumah, iya kan….?” Kak Loli menngodaku
“
ngak kok kak, ngapain kangen sama kak Loli… kak loli kan jahat sama Dita.”
Jawabku
“ kamu beneran
benci ya sama kakak…., apa gara-gara kita sering bertengkar kamu akan benci
kakak? Bahkan kakak udah jauh dari kamu saja kamu masih tetap marah sama
kakak?” Tanya kak Loli
Aku
hanya diam, aku tak tahu harus jawab seperti apa pertanyaan kak Loli. Ada hal
yang terbersit di hatiku, namun aku tak bisa mengungkapkannya kepada kak Loli.
Sementara itu kak Loli melanjutkan kata-katanya.
“
kakak sebenarnya kagen banget sama kamu, selama disini kakak sering kepikiran
sama kamu, kamu ngak ada lagi dekat kakak. Kakak kepikiran kamu disekolah
gimana, karena seingat kakak kamu itu sering banget dikerjain teman-temanmu
karena kamu terlalu polos ngikutin kemauan mereka.” Kata kak Loli “ kalo kamu
masih benci sama kakak karena kakak sering ngejahilin kamu, itu karena kamu
sering kali menjauh dari kakak. Jadi Cuma dengan cara itu kakak bisa bicara
sama kamu. Sekarang ngak ada lagi yang sering ngambek sama kakak kayak kamu
dirumah, kakak kangen sama kamu” Lanjut kak loli
“
Ooo… jadi kak Loli kangen sama Dita cuma pengen liat dita ngambek lagi, kakak
mau marah-marahin Dita lagi, kalo gitu kak loli pulang aja … nanti kakak kan
bisa marahin dita sepuasnya ”jawabku sambil tertawa
“
iya nih Dit, kakak jadi ngak sabaran mau pulang. Kakak pengen bikin kamu nangis
lagi aja ya…..” Sela kaka Loli
“
yang ada aku yang buat kakak nangis , hehe…lihat aja nanti kak” kataku
“
ok…. Kita lihat aja nanti siapa yang bakalan nangis duluan” kata kak Loli
Pembicaraan
via telfon itu cukup lama berlangsung, aku tidak menyangka kak Loli sangat
mengkhawatirkanku, ternyata selama ini aku memang salah memahami kak Loli. Aku
berharap mulai hari itu hubungan kami akan menjadi lebih baik, walaupaun
nantinya akan tetap ada pertengkaran antara aku dengan kak Loli, aku tidak akan
pernah membencinya lagi. Karena aku tahu tidak ada seorang kakak yang tidak
menyayangi adiknya, pertengkaran hanyalah bumbu dalam persaudaraan. Dari semua
itu aku bisa belajar menjadi lebih dewasa untuk bisa memahami orang lain.


0 komentar:
Posting Komentar