minang kabau

by 06.36 0 komentar

Baju Kuruang, Jati Diri Perempuan Minangkabau


Baju kuruang memang saat sekarang ini  sangat sulit ditemui di Minangkabau, karena memang menurut pandangan banyak orang baju kuruang  sangat jauh ketinggalan dari model-model baju pada masa kini, yang lebih cendrung menirukan gaya berpakaian barat yang serba terbuka. Namun,  dahulunya baju kuruang mempunyai arti penting bagi seorang perempuan di Minangkabau. Seharusnya kita sebagai perempuan Minangkabau berbangga bila mengenakan baju kuruang, karena baju kuruang memiliki makna bagi seorang perempuan minangkabau itu sendiri.
Baju kuruang merupakan baju yang  longgar,dan panjangnya sampai ke lutut,memiliki jahitan di bagian kiri dan kanannya dan ini biasa disebut basiba oleh orang minang, baju kuruang memakai kikiek di bagian ketiaknya, biasanya lengan baju kuruang panjangnya sampai kepergelangan tangan. Memakai baju kuruang biasanya dilengkapi dengan selendang, penutup kepala dan pakai kain sarung yang menutupi kaki hingga sampai  ke mata kaki.
Pemakaian pakaian adat Minangkabau ini diatur sedemikian rupa karena segala sesuatu itu diletakkan pada tempatnya secara wajar. Penempatan dengan wajar inilah yang mencerminkan jati diri seorang perempuan Minangkabau. Baju kuruang di Minangkabau memiliki lambang atau fungsi tersendiri bagi pemakainnya.
Baju kuruang ada yang melambangkan Bundo Kanduang di Minangkabau,yaitu pemimpin kaum perempuan di Minangkabau. Baju kuruang yang digunakan Bundo Kanduang ini berbeda dengan baju kuruang yang dipakai perempuan minangkabau biasanya. Baju kuruang Bundo Kanduang menggunakan penutup kepala berupa tingkuluak tanduak yang menyerupai atap gonjong rumah gadang . Baju kuruang itu sendiri memberi  makna kekokohan, keagungan dan tanggung jawab yang besar bagi Bundo Kanduang. Pakaian ini juga dipakaian Bundo Kanduang untuk mendampingi Penghulu dalam upacara-upacara adat.
Selain sebagai pakaian kebesaran Bundo Kanduang, Baju kuruang juga digunakan sebagai pakaian adat untuk perempuan minangkabau yang digunakan untuk kepentingan-kepentingan adat. Biasanya menggunakan bahan dasar kain beludru yang  berwarna merah.
Baju kuruang  juga banyak digunakan untuk seorang  penganten yaitu baju kuruang yang digunakan biasanya berwarna merah, biru, coklat tua, dan ungu. Namun sekarang telah banyak yang menggunakan kain beludru dengan warna-warna baru yang beraneka ragam seperti warna pink, oranye, dan sebagainya.Walaupunn digunakan untuk pakaian penganten, baju tersebut  biasanya tetap berpotongan longgar,dan memakai siba pada kedua sisinya.
Pada Baju pengantin atau baju  adat ini biasanya di bagian permukaan baju ditaburi  beragam hiasan  yang menggunakan sulaman benang emas. Di pinggir lengan kiri dan kanan, serta pinggir baju bagian bawah diberi minsia. Minsia adalah jahitan tepi yang berbentuk melingkar dengan menggunakan benang emas. Hiasan ini sering pula menggunakan beragam hiasan khusus yang terbuat dari bahan logam yang berwarna keemasan yang dijahitkan ke baju kuruang tersebut.
Baju yang bertabur warna emas ini memiliki makna yang luas dan mendalam. Makna yang utama adalah memberikan gambaran sifat sosial dari pemakainya. Jahitan pinggir yang disebut minsie melambangkan jiwa demokrasi yang luas yang selama ini berlaku di Minangkabau. Demokrasi yang memiliki aturan dan batas-batas yang telah ditentukan dalam adat “dilingka alua jo patuik”, dan berdasarkan kepada aturan-aturan yang ada dalam Al-qur’an. yang bersandar pada semboyan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.
Selain digunakan untuk hal-hal yang berbau adat, perempuan minangkabau dahulu  dalam kesehariannya tetap memakai baju yang kuruang , namun baju kuruang yang dipakai dalam keseharian ini lebih sederhana dan kainnyapun sesuai dengan apa yang diinginkan sipemakai.
Standar pakaian bagi orang Minangkabau adalah tidak menonjolkan bagian tubuh yang bisa menimbulkan ransangan seksual bagi lawan jenisnya, contohnya yaitu baju kuruang, dan dalam pepatah adat disebutkan “Kain pandindiang miang, ameh pandindiang malu artinya pakaian itu betul-betul menutup seluruh tubuh agar tidak terkena oleh bahaya alam dan Islam menegaskan tidak memberi ransangan seksual bagi lawan jenisnya, jadi adat dan agama sejalan, dalam hal ini adalah baju kuruang yang pada dasarnya dibuat longgar,dan basiba menunjukkan bahwa minangkabau sejalan dengan islam. 
Untuk mempertahankan tradisi minangkabau dalam pemakaian baju kuruang ini, kita sebagai perempuan-perempuan minangkabau hendaklah berbagga menggunakan baju kuruang. Walaupun saat sekarang tidak memungkinkan untuk selalu memakai baju kuruang, setidaknya kita dapat memakainya pada acara-acara yang berkaitan dengan  adat minangkabau. Agar baju kuruang sebagai jati diri perempuan minangkabau tidak hilang begitu saja dan dapat bertahan sebagai salah satu warisan budaya minangkabau.Nisa

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar